dua orang sepupu saya meminta untuk dibelikan hamburger dan satu nya lagi minta dibelikan ayam goreng, tetapi harus yang MCdonal dan KFC
ya ini yang jadi bahasan saya brand/merk yang seakan-akan sudah jadi totem saya gak atau alasannya pastinya kenapa harus brand itu kalau menurut saya sama saja dengan burger di pinggir jalan seperti di depan sebuah tempat les LIA atau tempat2 lainnya.
atau kalau untuk ayam goreng saya lebih meilih ayam yang laennya seperti master dll toh tetep ayam goreng yg ditepungin, dan tentu saja dengan harga yang lebih murah :D
ya berbagai macam alasannya kenapa harus memilih dua brand tersebut mulai dari dagingnya impor sampai roti serta resepnya yang membuat lebih enak khoek cuihh... pembenaran sampah
kalo mau mengikuti selera lidah saya tentu saja saya lebih memilih nasi rendang dan ayam kecap hahhaha
ya anak anak sekarang gak bisa disalahin hidup di jaman posmo seperti sekarang pengaruhnya cepet sekali nyebar lewat iklan-iklan atau melalui teman-temannya klo gak merk ini gak gaul dll alasan laenya
saya bukan orang yang menganggap brand/merk/label itu tidak penting tentu saja berguna seperti misalnya bagaimana kita tau itu pohon pisang kalau tidak di label dulu mungkin kita akan menyebut semua pohon dengan sebutan sama semua. tetapi yang jadi masalah adalah ketika merk/brand/label itu menjadi seperti totem-totem.
saya pernah mendengar dua orang anak SMA saling meledek karna merk sepatu antara adidas dan nike, saling membanggakan harga sepatu masing yang berharga lima ratusan ribu keatas hampir 1 juta. ya gak mungkin mereka sempat berpikir berapa upah buruh untuk membuat satu sepatu yang mereka beli dengan harga selangit tersebut dan kemudian mereka pakai di kaki mereka (mulai ngawur) ya ya mungkin saya juga termasuk orang yang sempat di dalam kelompok tersebut yup saya korban kapital di zaman kapital dan mulai sekarang harus merubah pola pikir membeli barang bukan merk/label/brand
NO SOCIAL REVOLUTION WITHOUT PERSONAL REVOLUTION




