Selasa, 31 Januari 2012

kisah tukang sampah yang ditayangin di BBC



London (ANTARA) -Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan kota yang cukup pesat di dunia ditayangkan stasiun televisi Inggris BBC2, Minggu malam.

Laporan wartawan BBC London berjudul "Toughest Place to be a binman," membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak saja di Inggris tetapi juga di Brussel,dan Amerika Serikat yang bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC Iplayer.

Selama satu jam laporan mengenai kisah Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap harinya dengan gerobaknya sementara diawal tayangan, tukang sampah dari Inggris Wilbur Ramirez mengunakan truk dan bekerja dengan dua rekannya.

Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi bahkan kesehatan dan keselamatan.

Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin ditengah tengah kehidupan kota Jakarta yang kaya dan sangat timpang antara yang kaya dan miskin.

Wilbur Ramirez, selama 10 hari, mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di kota yang disebutkan sebagai kota yang padat penduduk dan sampah menjadi masalah besar.

"Kamu bekerja dengan siapa saja," tanya London binman Wilbur Ramirez kepada Imam yang dijawab ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Menangis


Melihat kehidupan Iman, ternyata Wilbur seringkali merasa terharu dan bahkan meneteskan air mata, mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan istrinya meskipun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun .

Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman facebook nya menulis "sediiiiiih banget liat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang bin man London ke Jakarta berbagi pengalaman".

"Sangat memalukan sekali kota Jakarta ternyata sangat kotor dan masih terbelakang sekali cara kerjanya," ujar istri Berry Natalegawa, kakak Menlu Marty Natalegawa.

Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa, biasa disapa seharusnya para pejabat malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Inggris.

"Apa enggak malu? malah wakil rakyat seenak enaknya ambil uang rakyat apa lagi pemimpin Negara yang tidak peduli sangat memalukan, semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini," ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merekam program tersebut dan akan membawa ke Jakarta.

Dalam laporannya disebutkan Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan menjajal melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah.

"Sampah........," teriak ayah dua anak yang istrinya tidak merasa malu kalau suaminya menjadi tukang sampah.

Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika berkisah bagaimana kehidupan Iman dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Dari dunia kesehatan dan keselamatan sadar pengelolaan limbah Inggris, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang menumpuk di Bantargerbang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.

"Nangis aku nontonnya.....bukan nangisin tukang sampah Inggris, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah," ujar Yanti Hitalessy.

Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan diskusi di laman facebook yang antara lain disebut oleh Lies Parish meskipun sama berprofesi sebagai tukang sampah atau binmen namun pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.

Bahkan London binmen pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta, ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Inggris.

Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di Inggris dan kini tinggal di Brussel yang juga menyaksikan tayangan tersebut mengakui bahwa acara benar-benar kontras kehidupan di sana, miris.

Begitupun yang ditulis Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol menulis tukang sampah di Inggris yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di Jakarta.

Diakhir laporan Wilbur yang tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu menemukan kehidupan Imam yang mendominasi, dan ketidakberdayaannya untuk mengubah keadaannya.

Pada akhirnya setelah Wilbur berbicara dengan ketua RT yang minta agar Imam mendapat kenaikan gaji pun dapat dikabulkan



mudah2an pemerintah ngeliat dan malu
ini gw copas abis liat videonya sedih juga 
istrinya mau melahirkan semoga sehat selamat bayinya...keren liputannya semoga ada perubahan ke arah yang lebih baik untuk bin man indonesia

Minggu, 29 Januari 2012

sejarah


Sejarawan LIPI

SEJARAH, menurut E.H. Carr dalam buku teksnya What is History, adalah dialog yang tak pernah selesai antara masa sekarang dan lampau, suatu proses interaksi yang berkesinambungan antara sejarawan dan fakta-fakta yang dimilikinya. Jadi, tidak ada tulisan atau buku sejarah yang final. Bila ditemukan sumber atau fakta baru, buku sejarah yang lama bisa direvisi. Demikian pula halnya dengan kasus Gerakan Tiga Puluh September 1965 (G30S).

Setelah Soeharto berhenti menjadi presiden pada 1998 lalu, sudah terbit beberapa buku baru yang mengungkapkan hal yang selama ini kurang diketahui masyarakat. Misalnya buku Saskia Eleonora Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia (1999), dan Pledoi Kol. A. Latief, Soeharto Terlibat G30S (2000). Di samping itu, telah terbuka pula berbagai arsip mengenai Indonesia tahun 1965/1966 di AS dan Inggris. Kedua jenis sumber di atas dapat dijadikan landasan untuk mempertanyakan kebenaran sejarah tentang peristiwa tersebut versi pemerintah Indonesia, yang menyebut pelaku utamanya adalah PKI dan Biro Chusus-nya.

Dalam bukunya, Latief mengungkapkan bahwa ia ditangkap tanggal 11 Oktober 1965. Ketika itu paha kanannya ditusuk bayonet dan lutut kirinya ditembak. Selama 10 tahun ia berada dalam sel isolasi yang dikunci dan baru diadili pada 1978. Dari rangkaian tekanan di dalam penjara atau ketika diperiksa dalam sidang Mahmilub, dapat dipertanyakan apakah pengakuan sebelum dan dalam sidang itu dapat dijadikan sumber sejarah yang layak dipercaya.

Hal serupa dialami oleh Sulami, Wakil II Sekjen Gerwani, seperti dituturkan dalam buku Perempuan-Kebenaran dan Penjara (1999). Wanita ini ditangkap pada 1967 dan baru diadili pada 1975. Antara lain ia dituduh memberikan barang berharga kepada keluarga Bung Karno di Istana Bogor. "Karena menolak tuduhan itu, interogator baju loreng marah dan memerintahkan algojo agar kedua jari kaki saya diinjak dengan sepatu tentara…. Dengan geram interogator bertanya, 'Bagaimana? Ngaku tidak?' Saya diamkan saja. Ia teriak, 'Cambuk sepuluh kali.' Algojo penginjak kaki mundur dan tukang cambuk maju dengan rotan belahan. Tiga malam saya mengalami keadaan itu...."

Kedua pengalaman di atas rasanya sudah cukup untuk meragukan validitas sumber yang dipergunakan dalam menyusun sejarah versi pemerintah Orde Baru. Selain itu, dapat dikatakan bahwa alasan utama untuk menyimpulkan bahwa PKI—sebagai organisasi—mendalangi G30S tidak kuat. Yang dipakai alat bukti adalah pengakuan Aidit sebanyak 50 halaman folio sebelum ditembak di Jawa Tengah, yang konon berbunyi, "Saya adalah orang yang mempunyai tanggung jawab tertinggi pada peristiwa 30 September 1965 dan disokong oleh penjabat PKI lainnya serta penjabat organisasi rakyat di bawah PKI" (Soegiarso Soerojo, 1988: 265). Apakah betul Aidit yang menulis surat pengakuan itu? Kalau benar ia mengaku, mengapa ia ditembak mati?

Selain itu, selama ini bukti utama lainnya adalah penerbitan Harian Rakyat tanggal 2 Oktober 1965. Dalam buku putih yang disunting oleh Alex Dinuth itu (1997), dicantumkan isi Harian Rakyat yang terdiri dari Pojok ("Gerakan 30 September sudah menindak Dewan Djenderal. Simpati dan dukungan rakjat di pihak Gerakan 30 September.") Tajuk surat kabar itu antara lain menyatakan, "Tetapi bagaimanapun djuga persoalan tersebut adalah persoalan intern AD. Tetapi kita rakjat jang sadar akan politik dan tugas-tugas revolusi mejakini akan benarnja tindakan jang dilakukan oleh Gerakan 30 September untuk menjelamatkan revolusi dan rakjat". Dimuat juga keterangan dari Anwar Sanusi (anggota Politbiro CC PKI) bahwa "Situasi ibu pertiwi dalam keadaan hamil tua" dan karikatur H.R. dengan kata-kata "Letkol Untung Komandan Bataljon Tjakrabirawa menjelamatkan Presiden dan RI dari coup Dewan Djenderal".

Pada tanggal 1 Oktober 1965 malam, Pepelrada Jaya melarang terbit semua harian yang terbit di Ibu Kota kecuali koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, yang memang diterbitkan pihak militer. Surat Perintah Pangdam V/Jaya (No. 01/Drt/10/1965) yang dikeluarkan Mayjen Umar Wirahadikumah berbunyi, "Dalam rangka mengamankan pemberitaan yang simpang-siur mengenai peristiwa pengkhianatan oleh apa yang dinamakan Komando Gerakan 30 September/Dewan Revolusi, perlu adanya tindakan-tindakan penguasaan terhadap media-media pemberitaan".

Menjadi tanda tanya mengapa Harian Rakyat yang jelas menjadi terompet PKI selama ini bisa terbit. Salah satu dokumen yang berasal dari Kedutaan Inggris di Jakarta (South-East Asia Department, Indonesia, D H 1015/218 10 Oct 1965) menyingkap keraguan tentang isi koran tersebut, apakah betul mewakili PKI. "My guess is that the editor took an unauthorised initiative." Apakah koran kiri sengaja dibiarkan terbit untuk menjebaknya? Atau sebaliknya, apakah tidak mungkin, bila isi Harian Rakyattanggal 2 Oktober 1965 dipersiapkan oleh pihak lain.

Larangan terbit semua koran itu—meskipun hanya lima hari—sangat menentukan, karena informasi dikuasai dan dimonopoli oleh pihak militer. Ketakutan akan dibredel kembali menyebabkan semua media massa hanya menulis atau mengutip pemberitaan sesuai dengan keinginan pemerintah/pihak keamanan.

Kampanye tentang keganasan komunis dengan gencar dilakukan oleh kedua harian militer tersebut.Berita Yudha Minggu, 11 Oktober 1965, memberitakan bahwa tubuh para jenderal itu telah dirusak, "Mata dicungkil dan sementara itu ada yang dipotong kemaluan mereka." Sedangkan sukarelawan-sukarelawan Gerwani melakukan hubungan tidak senonoh dengan mayat para jenderal itu. Padahal, menurut visum dokter tidaklah demikian. Para korban itu meninggal dengan luka-luka karena tembakan atau terbentur dinding sumur di Lubang Buaya. Saskia Wieringa mencatat bahwa koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha menyiarkan kampanye sadistis sejenis ini secara teratur sampai bulan Desember 1965.

Informasi (atau lebih tepat disinformasi) itulah antara lain yang menyulut kemarahan rakyat dan akhirnya melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap mereka yang dicurigai sebagai anggota PKI. Kampanye untuk menghantam komunis ini mendapat dukungan penuh dari dunia Barat. Dalam dokumen dari pihak Inggris yang dialamatkan ke Singapura mengenai "Indonesian Disturbances" (D 1835, 6 Oct 1965) ditulis "Meanwhile we certainly do not exclude any unattributable propaganda or psywar activities which would contribute to weakening the P.K.I. permanently. We therefore agree with the recommendation in last sentence your paragraph 2. Suitable propaganda themes might be: P.K.I. brutally in murdering Generals and Nasution's daughter; Chinese interference in particular arms shipments; P.K.I. subverting Indonesia as agents of foreign Communists; fact that Aidit and other prominent Communists went to ground; the virtual kidnapping of Sukarno by Untung and P.K.I.; etc., etc. We want to act quickly while the Indonesian are still off balance, but treatment will need to be subtle."


Sebetulnya, kalau Buku Putih yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara RI tahun 1994 dibaca dengan seksama, bisa diperoleh kesimpulan yang tentu tidak diharapkan oleh pembuat buku tersebut. Dalam buku Gerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia itu terdapat indeks nama sebanyak 306 orang tokoh (pada 10 halaman). Kalau kita melihat daftar indeks itu terlihat bahwa kasus tersebut pada intinya menyangkut Presiden Sukarno (disebut 128 kali), dua tokoh PKI (Aidit dan Syam, 77 kali), dan dua kubu perwira ABRI (107 kali). Dalam "indeks kata penting", tiga kata yang paling sering muncul adalah 1)Gerakan Tiga Puluh September, 2) Dewan Revolusi, 3) Dewan Jenderal. Sedangkan kata "PKI" hanya disebut dua kali. Jadi, buku ini berbicara lebih tentang tokoh PKI (atau menurut istilah Orde Baru, oknum), yaitu Aidit dan Syam, ketimbang mengenai PKI sebagai sebuah organisasi sosial-politik.

Aidit memang Ketua PKI, tetapi dalam suratnya kepada Sukarno ia mengatakan bahwa "Tanggal 30 September tengah malam saya diambil oleh orang berpakaian Cakrabirawa (tidak saya kenal) dengan keterangan: dipanggil ke Istana untuk sidang darurat kabinet, tetapi kendaraan tersebut menuju ke jurusan Jatinegara. Kemudian pindah mobil terus menuju ke sebuah kampung dan ditempatkan di sebuah rumah kecil. Di situ saya diberi tahu bahwa akan diadakan penangkapan terhadap anggota-anggota Dewan Jenderal." (Soegiarso Soerojo, hlm. 262). Sedangkan Sjam sendiri dalam berbagai buku masih diragukan identitas aslinya, apakah ia agen PKI yang disusupkan ke kalangan Angkatan Darat atau sebaliknya, intel tentara yang menyamar di tubuh PKI, atau bisa juga ia merupakan agen ganda.

Mengenai G30S, penulis sendiri berpendapat bahwa mustahil peristiwa berdarah itu dirancang oleh pelaku tunggal, dan peristiwa tragis itu disebabkan oleh unsur internal (dalam negeri), didukung faktor eksternal (unsur asing). Tuduhan bahwa PKI menjadi dalang G30S sebagaimana dimuat dalam buku putih versi pemerintah Orde Baru dan diajarkan di sekolah-sekolah patut dipertanyakan kembali. Tanggal 1 Oktober 1965 malam, selain sebagai tanggal pembredelan pers yang pertama dalam sejarah Orde Baru, bisa pula dianggap sebagai awal upaya perekayasaan sejarah di Indonesia.

Saya tidak membantah perihal tindakan brutal oleh PKI dan ormasnya sebelum tahun 1965. Aksi sepihak yang dilancarkan oleh orang-orang komunis dalam mengampanyekan ketentuan land reformtelah menimbulkan konflik sosial, terutama di pedesaan. Di bidang seni dan budaya terjadi pengekangan kebebasan bagi kelompok yang tidak mendukung Manipol, seperti yang dialami oleh Taufiq Ismail dan kawan-kawan. Aktivis organisasi Islam PII dipermalukan (seperti dalam insiden Kanigoro), HMI dituntut agar dibubarkan.

Namun, semua tindakan yang kasar itu telah dibalas dengan pembantaian terhadap paling sedikit 0,5 juta orang yang dicurigai sebagai penganut paham komunis di Indonesia. Rasanya, pembalasan itu sudah jauh dari setimpal. Seyogianya rekonsiliasi antara umat Islam dan orang-orang kiri dilakukan pada 1966. Tapi itu tidak dilakukan oleh rezim Orde Baru, yang malah sengaja mengawetkan masalah ini dan menjadikannya sebagai alat legitimasi sekaligus alat represi.

Pernah dimuat di TEMPO pada 2 Oktober 2000. . Bisa mengakses sumber aslinya di http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2000/10/02/KL/mbm.20001002.KL114183.id.html

Kamis, 19 Januari 2012

Tambang yang diperebutkan 2 kabupaten


TAPAL BATAS : Pemkab Berkukuh Lahan PT NM Milik Tanggamus
Minggu, 25 September 2011 21:53
KOTAAGUNG (Lampost): Menyusul klaim Pemkab Lampung Barat yang menyatakan Roworejo dan lokasi tambang emas PT Natarang Mining (NM) secara geografis masuk wilayah Lampung Barat, Pemkab Tanggamus balik mengklaim putusan gubernur Lampung tahun 1999 yang menyatakan kedua wilayah tersebut masuk ke Kabupaten Tanggamus.
Sebelumnya, dalam paripurna DPRD Lampung Barat, pimpinan eksekutif setempat menyatakan kedua wilayah tersebut secara geografis masuk wilayah Lampung Barat.
Kepala Subbagian (Kasubbag) Pertanahan Pemkab Tanggamus Hendriyadi, Minggu (25-9), mengatakan menyangkut tapal batas kedua kabupaten, terutama wilayah Roworejo, harusnya sudah selesai. "Soal tapal batas kami tetap berpedoman kepada Keputusan Gubernur Lampung Nomor: G/047/B.I/HK/1992, tanggal 7 Februari 1992, dan Nomor: 101 Tahun 1999 tanggal 20 Oktober 1999," kata Hendriyadi.
Keputusan gubernur tersebut mengacu pada peta batas wilayah Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Lampung Selatan, yang saat itu ditandatangani Bupati Lampung Barat H.S. Umpu Singa, dan Bupati Lampung Selatan Dulhadi pada 8 Februari 1993.
Selain itu, kedua kabupaten telah melakukan peninjauan lapangan dengan difasilitasi Pemprov dan disaksikan tim teknis BPN Tanggamus, BPN Provinsi, Dinas Kehutanan Provinsi, dan kedua kabupaten, disaksikan camat perbatasan dan kepala pekon perbatasan tanggal 18 Juli 2008.
Hasil kunjungan lapangan tersebut dituangkan dalam berita acara yang dipimpin Sekprov Lampung pada Selasa, 29 Juli 2008. "Intinya Roworejo masuk ke Kabupaten Lampung Barat," kata Hendriyadi.
Menyoal PT Natarang Mining, Hendriyadi mengatakan lokasi eksploitasi penambangan emas itu berada di wilayah administrasi Kabupaten Tanggamus seluas lebih kurang 40 hektare. Hal itu berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: S.33/Menhut-VII/2005 tanggal 25 Januari 2005. (UTI/D-1)

setelah izinya keluar mulai rebutan ni 2 kabupaten 
dan nunggu dampaknya terhadap lingkungan di daerah bandar negeri semuong, kota agung, tanggamus  aja

Tambang yang berada di daerah register


PT NM Tidak Boleh Menambang Emas di Kawasan TNBBS

Kotaagung, Lampung, (ANTARA News) - PT Natarang Mining (NM), yang mendapatkan izin penambangan emas di wilayah Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tidak boleh melakukan kegiatan penambangan atau operasi produksi di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Kepala Balai TNBBS, Tamen Sitorus, mengatakan, di Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Senin (4/9), berdasarkan koordinat sebagaimana tersebut dalam lampiran keputusan Menteri ESDM, lokasi kegiatan kontrak karya berada di hutan lindung Register (Reg) 39 Kotaagung Utara seluas 11.290 ha, dan kawasan TNBBS Reg 46 B Gunung Sekincau seluas 1.500 ha.

Ia menjelaskan, kegiatan operasi PT NM saat ini masih berada di kawasan hutan lindung Reg. 39 Kotaagung Utara dan disana telah dibangun base camp, helipad, terowongan (close pit), dan jembatan gantung.

"Untuk mengantisipasi kemungkinan kegiatan tersebut masuk ke dalam kawasan TNBBS, kami telah melakukan peringatan kepada karyawan dan supervisor PT NM untuk tidak melakukan kegiatan apapun dalam kawasan TNBBS, dan apabila melakukan aktivitas akan dilakukan tindakan penegakan hukum berdasarkan ketentuan yang berlaku," kata Tamen.

Ia mensinyalir PT NM melakukan kegiatan penambangan emas itu, tidak meminta izin pakai kawasan itu dari Departemen Kehutanan (Dephut) dan hanya berbekal Keputusan Menteri ESDM nomor: 005.K/40.00/DJG/2005 tanggal 14 Januari 2005 dengan luas penambangan 12.790 ha, berlaku selama 30 tahun (mulai 1 Sepetember 2004 sampai dengan 31 Agustus 2034).

Sebelumnya, kata dia lagi, terkait dengan penambangan emas itu, pada tanggal 11 Agustus 2006 telah dilakukan pertemuan antara PT NM dan instansi terkait di Kantor gubernur Lampung.

Hasil keputusan rapat akan diadakan peninjauan kembali keputusan Menteri ESDM. 

Ia menambahkan, sejak proses survei sampai terbitnya surat keputusan Menteri ESDM, pemerintah daerah dan Balai TNBBS tidak pernah dikonfirmasikan.


Tetap beroperasi

Walaupun penambangan emas oleh PT Natarang Mining, di Dusun Waysuluh, Kecamatan Suoh Lampung Barat, sekitar 130 Km sebelah Barat Kota Bandarlampung itu menimbulkan kontroversi terkait perizinan, namun pihak perusahaan tetap saja melakukan aktivitas.

Sebanyak 32 pekerja tambang di areal itu bekerja memperbaiki terowongan dan jembatan gantung.

Salah seorang pekerja tambang, Yulianto Dadi, mengatakan, penambangan emas di lokasi ini menggunakan penambangan tertutup, yakni mencari emas dengan membuat lubang dan diledakkan dengan menggunakan dinamit.

"Penambangan emas tertutup relatif lebih bisa menjaga lingkungan dari kerusakan, tidak seperti penambangan terbuka yang harus membuka areal," ujar dia.

Dadi juga menuturkan, tahap penambangan di kawasan itu kini memasuki eksploitasi untuk mendapatkan emas.

Eksploitasi tambang emas dibutuhkan peralatan berat seperti alat bor, kereta gantung, dinamit, dan sebagainya. 

Selain itu akses jalanpun harus dibuka sehingga alat-alat berat itu dapat mudah masuk ke lokasi pertambangan. 

Lokasi penambangan di atas pegunungan cukup sulit ditempuh karena hanya dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua atau berjalan kaki.

Dari perkampungan terdekat, lokasi pertambangan emas itu berjarak sekitar 4,5 Km dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit jika menggunakan kendaraan sepeda motor dan satu jam berjalan kaki.(*)

Selasa, 17 Januari 2012

Haji Misbach




HAJI MISBACH

Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai  menunaikan ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach
Di  kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan
Marcga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memakai kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada jaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan  kolonialisme dan kapitalisme.Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, Misbach menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di tengah pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang direktur wayang orango Kartodikromo, salah satu tokoh pergerakan pada saat itu berkisah tentang Misbach:

Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggapnya berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx, dia sempat menulis artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak membuat Misbach tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu arit dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran.
Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Selama penahanan di Semarang, tak seorang pun diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca Al-Qur’an. Di pengasingan, selain mengirim laporan perjalanannya, Misbach juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme".

Medan Moeslimin kemudian memuat artikel Misbach tersebut,
“…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.”

Ditengah ganasnya alam di tempat pembuangannya Misbach terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya.

Tulisan ini dirangkum dari majalah Panji Masyarakat, No. 09 Tahun IV - 21 Juni 2000.

Senin, 16 Januari 2012

suka suka: Max Havelaar (film jadul)

suka suka: Max Havelaar (film jadul): Ini film jadul Didasarkan karena saya mengangumi seorang Edawar Douwes Deker yang lebih dikenal dengan nama pena Multatuli yang telah me...

Pertahan yang terbaik adalah ya bertahan




Setelah tadi pagi saya menonton pertandingan sepakbola antar Internazionale Milan melawan AC Milan
dan kebetulan saya adalah seorang Interisti (sebutan untuk para fans Inter)

saya pernah baca pelatih MU Alex Ferguson pernah berkata bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang
menurut pendapat saya itu salah
berkaca terhadap pertandingan semalam melihat begitu bagusnya pertahanan inter menghadapi gempuran milan
dan melakukan serangan balik yang yang sangat cepat dan efisien, wow bahasa gw ya gak nyangka :P
dan hasilnya adalah kemenangan untuk la beneamata 1-0
tentu saja itu diperlukan pemain bertahan yang sangat baik seperti pemain yang dimiliki Inter yang diisi Lucio dan Samuel dan dibantu geladang seperti motta, cambiaso dan zanetti
ya itu pendapat saya sih karna saya sudah melihat banyak tim besar yang kesulitan menghadapi petahanan yang kuat kemudian kalah oleh sebuah counter attack yang cepat
ambil contoh sewaktu semifinal champion antara Inter vs Barca saat itu inter masih dilatih oleh Mourinho
belum lagi contoh pertandingan2 lainnya
banyak yang bilang ini sepabola pragmatis ya apapun itu lah
yang pasti di pertandingan sepakbola tidak harus melulu menyerang kan? hehhee
Forza Inter

Sabtu, 14 Januari 2012

Max Havelaar (film jadul)

Ini film jadul 

Didasarkan karena saya mengangumi seorang Edwar Douwes Deker yang lebih dikenal dengan nama pena Multatuli yang telah menulis dua buah  History of java dan MaxHavelaar


Tanpa sengaja saya membaca di Kaskus.us ada yang berbagi link filmnya
kemudian saya googling di google tentu saja untuk mencari link download lokal
ahirnya saya menemukan link lokalnya di indowebster.com


ok ini film memang sudah lama sekali dibuat dan bahasa belanda pula karna yang buat emang orang londo saya sudah googling tidak menemukan sub indonya :P
film ini menceritakan max havelaar yang diangkat dari novel multatuli dengan judul yang sama 


film ini bercerita tentang seorang asisten Resident di Kabupaten Lebak Karesidenan Banten semasa penjajahan pemerintah kolonial Belanda yang miris terhadap penderitaan rakyat Indonesia saat itu

walaupun  ceritanya agak melenceng dari buku dan cerita sebenarnya, disini yang lebih banyak diceritakan masalah tuan tanah/penguasa pribumi yang sewenang2 bukan orang2 belanda yang menindas rakyat 
recomen deh ni film buat yang suka film sejarah dan klo ada yang punya sub indonya tolong dong saya dibagi :D