Rabu, 18 April 2012

konsumerisme

hari ini tepatnya barusan saja saya pergi ke sebuah mall yang berada di lampung tentu saja karna saya tinggal di lampung :P
 dua orang sepupu saya meminta untuk dibelikan hamburger dan satu nya lagi minta dibelikan ayam goreng, tetapi harus yang MCdonal dan KFC
ya ini yang jadi bahasan saya brand/merk yang seakan-akan sudah jadi totem saya gak atau alasannya pastinya kenapa harus brand itu kalau menurut saya sama saja dengan burger di pinggir jalan seperti di depan sebuah tempat les LIA atau tempat2 lainnya.
atau kalau untuk ayam goreng saya lebih meilih ayam yang laennya seperti master dll toh tetep ayam goreng yg ditepungin, dan tentu saja dengan harga yang lebih murah :D
ya berbagai macam alasannya kenapa harus memilih dua brand tersebut mulai dari dagingnya impor sampai roti serta resepnya yang membuat lebih enak khoek cuihh... pembenaran sampah
kalo mau mengikuti selera lidah saya tentu saja saya lebih memilih nasi rendang dan ayam kecap hahhaha
ya anak anak sekarang gak bisa disalahin hidup di jaman posmo seperti sekarang pengaruhnya cepet sekali nyebar lewat iklan-iklan atau melalui teman-temannya klo gak merk ini gak gaul dll alasan laenya
saya bukan orang yang menganggap brand/merk/label itu tidak penting tentu saja berguna seperti misalnya bagaimana kita tau itu pohon pisang kalau tidak di label dulu mungkin kita akan menyebut semua pohon dengan sebutan sama semua. tetapi yang jadi masalah adalah ketika merk/brand/label itu menjadi seperti totem-totem.
saya pernah mendengar dua orang anak SMA saling meledek karna merk sepatu antara adidas dan nike, saling membanggakan harga sepatu masing yang berharga lima ratusan ribu keatas hampir 1 juta. ya gak mungkin mereka sempat berpikir berapa upah buruh untuk membuat satu sepatu yang mereka beli dengan harga selangit tersebut dan kemudian mereka pakai di kaki mereka (mulai ngawur) ya ya mungkin saya juga termasuk orang yang sempat di dalam kelompok tersebut yup saya korban kapital di zaman kapital dan mulai sekarang harus merubah pola pikir membeli barang bukan merk/label/brand
NO SOCIAL REVOLUTION WITHOUT PERSONAL REVOLUTION

Jumat, 30 Maret 2012

Lagu Jadul


lirik lagu
 INTERNASIONALE

Bangunlah kaum yang terhina.
Bangunlah kaum yang lapar,
Kehendak yang mulia dalam dunia
senantiasa bertambah besar
lenyapkan adat dan faham tua
kita rakyat yg sadar, sadar.
Dunia sudah berganti rupa
untk kemenangan kita
perjuangan penghabisan.
Bangkit dan melawan.
Dan internasionale
pastilah di dunia.
Perjuangan penghabisan
bangkit dan berlawan.
Dan internasiönale pasti d dunia….


Mp3 klik disini


DARAH JUANG

Di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji
padamu kami berbakti
tuk membebaskan rakyat

Mp3 sedot disini

sosialisme sejati


Sosialisme sejati adalah agama sejati. Bila orang-orang beragama sungguh-sungguh religius tentulah masyarakat sosialis itu telah terwujud. Namun senyatanya kita adalah masyarakat beragama sebatas kulit-luar, sebatas label. Kepercayaan kita hanyalah tumpuan harapan; hanyalah tiang sandaran bagi kita untuk berpegang, untuk berlindung. Hal ini tidak memiliki dasar moral yang kuat yaitu kemurnian, ketulusan dan kejujuran. Landasan sosialisme adalahmoral, demikian juga agama sejati dilandasi oleh moral, cinta-kasih. Bila hal ini menjadi landasan dari tindakkan hidup kita maka tentulah tak’an terjadi masalah, kekacauan dalam kehidupan kita bernegara. Tak’an ada kasus Bank Century maupun kasus-kasus yang lainnya.
Pemikiran sosialisme berawal dari hakekat sejati manusia yaitu kemurnian dirinya. Demikian juga agama sejati adalah usaha manusia untuk kembali pada jati dirinya yaitu kemurnian dan keheningan. Dari kecerdasannya, manusia melihat hakekat dirinya, muncullah sosialisme yang merupakan kebutuhan mendasar yaitu persahabatan, persaudaraan, solideritas diantara manusia. Sosialisme sejati bukanlah sekedar wanaca, namun adalah tindakkan darikepekaan hakekat hidup itu sendiri. Dan sosialisme kemudian menjadi suatu konsep, suatu ideologi untuk mencapai bagaimana masyarakat manusia dapat hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian bersama-sama.
Bila kita menengok awal peradaban manusia, tiada sesuatu apa-pun yang menjadi hak milik pribadi. Bila kita jujur dan mau bertanya pada diri sendiri; yang manakah didunia ini milik diri kita? Bagi yang beragama tentu paham bahwa semuanya termasuk dirinya adalah milik tuhan, bukan? Namun karena kita tak pernah mempertanyakan, menyimak secara mendalam, maka kita mengklaim sebagai milik-KU. Dari sinilah awal semua penderitaan umat manusia. Keserakahan, pengejaran, persaingan, pertarungan, permusuhan, kebencian dan kecemasan tiada akhir. Walau kita memiliki sejuta tuhan; pergi setiap hari sembahyang ke-Gereja, ke-Mesjid, ke-Pura atau kemana-pun yang lainnya tiadalah bermanfaat, selama didalam diri kita memelihara hal-hal yang sangat bodoh ini, bukan?
Awal peradaban, manusia hidup bersama-sama, bekerja, berburu, menangkap ikan dan berbagi bersama atas hasil yang ada. Mereka hidup dalam kemurnian dirinya; tak ada keserakahan, tak ada persaingan, tak ada kebencian. Mereka hidup hanyalah hidup. Inilah sosialisme sejati, inilah agama sejati. Pada tahun-tahun 1950an, pagi-pagi saya akan pergi kerumah tetangga membawa serabut kelapa atau daun kelapa yang kering untuk meminta api. Tahun-tahun ini korek api sangat langka. Orang sekampung berbagi api dari satu sumber bara-api. Bukan hanya berbagi api, namun kadang mereka juga berbagi bahan makanan, atau masakan yang telah mateng. Orang-orang kampung yang berlebih akan berbagi beras, garam, ubinya kepada yang tak punya. Apakah landasan dari tindakkan mereka ini? Sudah barang tentu adalah kemurnian dari hakekat dirinya yaitu kejujuran dan ketulusan. Walau mereka tak tahu apa itu sosialis, apa itu agama, apa itu moral, namun tindakkan mereka senyatanya bermoral. Inilah sosialisme.

sumber http://wayanwindra.wordpress.com

Rabu, 08 Februari 2012

Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis, pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu, persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan ke depan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti di hadapannya.
Saat mobil menepi, brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. 

“Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca. Jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa pak polisi?” Tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu. 

“Ya Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!” 

Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Jogja ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya ke mana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun sultan menolak.

“Ya..saya salah, kamu benar, saya pasti salah!” 

Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“Jadi…?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya.

“Em..emm..bapak saya tilang, mohon maaf!” 

Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Raja pun beliau tidak melakukannya.

“Baik..brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal!” 

Sinuwun meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. 

“Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.

Surat tilang berpindah tangan, rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada Sinuwun sebelum Sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit Sinuwun melintas di depan stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut. Lalu kembali ke rumah dengan sepeda abu abu tuanya.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di markas polisi pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala kantor.

“Royadin, apa yang kamu lakukan..sa’enake dewe..ora mikir..iki sing mbok tangkep sopo heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa, di tangannya rebuwes milik Sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak balik.

“Sekarang aku mau Tanya, kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia, ngerti nggak kowe sopo Sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“Siap pak, beliau tidak bilang beliau itu siapa, beliau ngaku salah..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa dia..ojo kaku kaku, kok malah mbok tilang..ngawur..jan ngawur….Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri!” Derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah, apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja, memang Koppeg(keras kepala) kedengarannya.

Kepala polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan Sinuwun, masih di Tegalkah atau tempat lain? Tujuannya cuma satu, mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaa Sinuwun tak kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa, satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin….minggu depan kamu diminta pindah!” lemas tubuh Royadin, ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak di pinggir kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini, karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko.

“Siap, pak!” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!” pernyataan komisaris mengejutkan, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan selatan, ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang!” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda Pekalongan – Jogja? Pindahmu itu ke Jogja bukan di sini, Sinuwun yang minta kamu pindah tugas kesana, pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!” Cetus pak komisaris, disodorkan surat yang ada digengamannya kepada brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya: “Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja, sebagai polisi yang tegas, saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” 

Surat itu ditanda tangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tangan brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

“Mohon bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau,dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya!” Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati Sinuwun Sultan HB IX, Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010, saat saya mendengar kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga dipekalongan, saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya, pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran.

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari sabang sampai merauke.

saya copy dari tulisan Aryadi Noersaid
Depok June 25′ 2011
Aryadi Noersaid

Selasa, 31 Januari 2012

kisah tukang sampah yang ditayangin di BBC



London (ANTARA) -Laporan mengenai kisah tukang sampah Jakarta yang disebut sebagai kota dengan pertumbuhan kota yang cukup pesat di dunia ditayangkan stasiun televisi Inggris BBC2, Minggu malam.

Laporan wartawan BBC London berjudul "Toughest Place to be a binman," membandingkan tukang sampah di London dan Jakarta menarik perhatian masyarakat Indonesia tidak saja di Inggris tetapi juga di Brussel,dan Amerika Serikat yang bisa menyaksikan tayangan tersebut melalui BBC Iplayer.

Selama satu jam laporan mengenai kisah Imam, tukang sampah di Jakarta yang bekerja mengumpulkan sampah setiap harinya dengan gerobaknya sementara diawal tayangan, tukang sampah dari Inggris Wilbur Ramirez mengunakan truk dan bekerja dengan dua rekannya.

Dalam laporan mendalamnya itu, BBC London membandingkan bagaimana kerja tukang sampah yang dikenal dengan binman di Inggris dengan tukang sampah di Jakarta yang sangat jauh berbeda dilihat dari berbagai segi bahkan kesehatan dan keselamatan.

Bahkan Wilbur Ramirez, ayah dua anak itu pun hidup bersama Imam dan keluarganya di perkampungan miskin ditengah tengah kehidupan kota Jakarta yang kaya dan sangat timpang antara yang kaya dan miskin.

Wilbur Ramirez, selama 10 hari, mengikuti Imam bekerja mengumpulkan sampah di kota yang disebutkan sebagai kota yang padat penduduk dan sampah menjadi masalah besar.

"Kamu bekerja dengan siapa saja," tanya London binman Wilbur Ramirez kepada Imam yang dijawab ia bekerja sendiri mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.

Menangis


Melihat kehidupan Iman, ternyata Wilbur seringkali merasa terharu dan bahkan meneteskan air mata, mana mungkin dengan gaji yang tidak seberapa Imam dapat hidup bersama anak dan istrinya meskipun mereka sama-sama bekerja sebagai tukang sampah selama lima tahun .

Zulindatando Berry Natalegawa menulis di laman facebook nya menulis "sediiiiiih banget liat acara di BBC 2 di London hari ini acara seorang bin man London ke Jakarta berbagi pengalaman".

"Sangat memalukan sekali kota Jakarta ternyata sangat kotor dan masih terbelakang sekali cara kerjanya," ujar istri Berry Natalegawa, kakak Menlu Marty Natalegawa.

Menurut Linda, demikian Zulindatando Berry Natalegawa, biasa disapa seharusnya para pejabat malu menyaksikan acara yang menjadi perhatian masyarakat di Inggris.

"Apa enggak malu? malah wakil rakyat seenak enaknya ambil uang rakyat apa lagi pemimpin Negara yang tidak peduli sangat memalukan, semoga Allah bukakan mata dan telinga para pemimpin negara ini," ujar Linda yang bekerja di Kedutaan Besar Brunei Darussalam di London dan merekam program tersebut dan akan membawa ke Jakarta.

Dalam laporannya disebutkan Wilbur pun ikut mengumpulkan sampah dan bahkan menjajal melakukannya seorang diri dari rumah ke rumah.

"Sampah........," teriak ayah dua anak yang istrinya tidak merasa malu kalau suaminya menjadi tukang sampah.

Wilbur pun tidak dapat membendung air matanya ketika berkisah bagaimana kehidupan Iman dengan keluarganya yang tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan.

Dari dunia kesehatan dan keselamatan sadar pengelolaan limbah Inggris, Wilbur pun merasa takjub bagaimana sampah yang menumpuk di Bantargerbang dan dikerumuni oleh para pemulung tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.

"Nangis aku nontonnya.....bukan nangisin tukang sampah Inggris, tetapi rakyat kita yang kerja mengais-ngais sampah," ujar Yanti Hitalessy.

Laporan dari BBC itu pun menjadi bahan diskusi di laman facebook yang antara lain disebut oleh Lies Parish meskipun sama berprofesi sebagai tukang sampah atau binmen namun pekerjaan dan kehidupan mereka sungguh jauh berbeda.

Bahkan London binmen pun sampai menangis menyaksikan bagaimana tukang sampah di Jakarta, ujar Lies Parish yang lebih dari 14 tahun menetap di Inggris.

Hamiyah Panama, ibu Amelie yang pernah menetap di Inggris dan kini tinggal di Brussel yang juga menyaksikan tayangan tersebut mengakui bahwa acara benar-benar kontras kehidupan di sana, miris.

Begitupun yang ditulis Tjatri Dwimunali yang tinggal di Bristol menulis tukang sampah di Inggris yang ikut bekerja sebagai tukang sampah di Jakarta pun merasa prihatin akan nasib tukang sampah di Jakarta, dan bahkan sering menangis melihat keadaan tukang sampah di Jakarta.

Diakhir laporan Wilbur yang tidak dapat membayangkan perjalanan kehidupan Imam dengan gaji yang tidak seberapa itu menemukan kehidupan Imam yang mendominasi, dan ketidakberdayaannya untuk mengubah keadaannya.

Pada akhirnya setelah Wilbur berbicara dengan ketua RT yang minta agar Imam mendapat kenaikan gaji pun dapat dikabulkan



mudah2an pemerintah ngeliat dan malu
ini gw copas abis liat videonya sedih juga 
istrinya mau melahirkan semoga sehat selamat bayinya...keren liputannya semoga ada perubahan ke arah yang lebih baik untuk bin man indonesia